Apa Itu Dead Stock? Bagaimana Mengatasinya Dalam Produk Bisnis UMKM Anda?

Share your love

Menjalankan sebuah bisnis bukanlah hal yang mudah, terkadang Anda harus melalui berbagai masalah saat menjalaninya, dan salah satu kendalanya adalah dead stock. Apa itu dead stock? Dead stock adalah istilah yang biasa digunakan untuk persediaan barang yang mengendap dalam gudang dan tidak dapat digunakan lagi karena kondisi yang tidak sesuai seperti cacat fisik, rusak, dan kadaluwarsa.

Penyebab Barang Dead Stock

Dead stock tidak terjadi dengan begitu saja, tentu ada faktor penyebabnya. Beberapa faktor tersebut meliputi:

  1. Perhitungan inventory (persediaan barang) pada gudang yang tidak akurat, sehingga saat melakukan re-stock persediaan barang berikutnya terjadi kelebihan dan barang menjadi menumpuk dalam gudang.
  2. Stock keeping unit (SKU) produk yang berlebihan. SKU adalah kode unik untuk setiap barang yang keluar masuk dalam sebuah bisnis. Fungsinya adalah untuk pengecekan produk di inventory, mencegah penyusutan barang seperti produk rusak, hilang atau tidak siap pakai dan restock inventory.
  3. Rendahnya minat pelanggan, sehingga penjualan menurun.
  4. Kualitas produk yang kurang baik.
  5. Sistem penyimpanan yang kurang baik.
  6. Kurangnya manajemen logistik terhadap aliran keluar-masuknya material. Hal ini kerap terjadi ketika distributor menawarkan produk dengan harga murah, yang kemudian dibeli penjual dalam jumlah banyak dengan tujuan efektivitas biaya. Namun, tidak memikirkan jangka panjang terhadap kualitas produk yang dipasok tersebut.

Jika hal seperti ini kerap terjadi pada bisnis Anda, besar kemungkinan akan memberikan dampak yang buruk bagi bisnis Anda dan menyebabkan kerugian besar secara materi. 

Mengatasi Dead Stock

Lalu, bagaimana cara mengatasi dan melewati kondisi seperti ini? Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya:

  1. Menyesuaikan harga jual

Hal ini dapat dilakukan apabila produk yang ingin Anda pasarkan adalah produk dengan kualitas yang tidak baik, seperti produk yang tidak sempurna, cacat pabrik, tetapi tidak begitu terlihat dan tetap bisa digunakan sebagaimana mestinya.

  1. Membuat strategi paket penjualan dan hadiah gratis

Berdasarkan riset dan penelitian, bahwa pemberian bundling (paketan) dengan harga lebih murah atau hadiah gratis dapat meningkatkan kepuasaan psikologis seseorang. Seorang pembeli akan merasa senang dan kembali berbelanja di tempat yang sama. 

  1. Menjual produk melalui media sosial dan marketplace

Media sosial dan marketplace (TokoPedia, Shopee, Facebook) merupakan salah satu platform yang paling efektif untuk menjual produk, kamu bisa menjualnya dengan memberikan keterangan secara detail mengenai produk sehingga lebih memberikan garansi keamanan kepada pelanggan. 

  1. Melakukan retur (mengembalikan barang kepada pemasok barang)

Cara ini tidak sepenuhnya memungkinkan, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Cara ini dapat dicoba. Anda bisa melakukan negosiasi dengan pihak supplier (pemasok barang) mengenai pengembalian produk. Namun, tentunya hal ini juga disesuaikan kembali dengan syarat dan ketentuan yang sudah disepakati sejak awal. Maka dari itu, sejak awal semua syarat dan ketentuan dengan supplier harus diperhatikan dengan baik.

  1. Donasi atau amal

Jika kemungkinan retur sulit untuk dilakukan, kamu bisa melakukan pilihan lain untuk mendonasikannya sebagai donasi kepada pihak lain. Alih-alih Anda hanya membuang produk tersebut, Anda dapat menyumbangkan produk tersebut untuk kegiatan amal, dengan harapan produk Anda nantinya dapat diperlakukan dengan lebih baik daripada hanya dibuang dan berakhir di tempat sampah. Cara ini juga dapat membantu membentuk citra branding ke arah yang lebih positif.

Dengan melihat potensi dampak yang cukup besar, akan lebih baik jika Anda menghindari kondisi dead stock. Untungnya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan bisnis dari kondisi ini. Beberapa cara di atas dapat dibagi berdasarkan produk itu sendiri dan sistem penunjang yang digunakan.

Dari sisi produk, pastikan bahwa material bahan yang digunakan berkualitas, lakukan survei apakah produk tersebut termasuk dalam slow moving inventory (barang yang dijual dalam jangka waktu yang lama) atau tidak, serta lakukan minat dan kebutuhan pelanggan terhadap produk tersebut.

Sedangkan dari sistem penunjang, lakukan manajemen stock yang baik, dan jangan lupa digitalisasi bisnis Anda dengan sistem pencatatan barang yang baik dan rapi. Hal tersebut akan berpengaruh pada proses stock opname inventory (kegiatan perhitungan jumlah stok persediaan barang dagang secara fisik dan menyesuaikannya dengan catatan akuntansi dalam bisnis), memprediksi barang gudang, serta sistem picking (pemasukan barang) dan packing (mengirimkan barang) menjadi lebih optimal. 

Share your love