Franchising Sebagai Model Bisnis UMKM? Kok Bisa?

Share your love

UMKM atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah usaha yang dikelola oleh individu atau kelompok individu yang memiliki skala produksi, jumlah karyawan, dan nilai aset yang terbatas.

Indonesia memiliki banyak sekali UMKM, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan membantu pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu UMKM sering dianggap sebagai salah satu penggerak utama perekonomian di Indonesia.

Walau serba terbatas, tidak menutup kemungkinan sebuah UMKM memiliki branding yang bagus sehingga orang-orang tertarik untuk membeli hak dagangnya. Franchise sendiri merupakan salah satu upaya pengembangan sebuah bisnis dari skala kecil ke skala yang lebih besar.

Berikut beberapa contoh bisnis UMKM yang kemudian berkembang menjadi franchise:

  • Kopi Toraja
  • Geprek Bensu
  • Es Teler 77
  • Kebab Turki Baba Rafi
  • Puspa Jaya
  • Permata Clean

Selain itu memulai bisnis UMKM juga bisa dari membeli franchise. Namun perlu hati-hati karena banyak sekali franchise bodong di luar sana.

Keuntungan dan kerugian membeli franchise UMKM

Franchise atau waralaba adalah suatu bentuk kerjasama, di mana sebuah perusahaan atau individu yang memiliki hak atas suatu produk/layanan (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan lain (franchisee) untuk menggunakan merek dagang, sistem operasi, dan bantuan teknis lainnya dengan imbalan royalti atau fee tertentu.

Melalu pengertian ini bisa kita pahami bahwa model bisnis franchise sejatinya tidak melihat skala bisnis yang dijadikan waralaba. Dengan begitu, UMKM pun bisa menggunakan model bisnis franchise baik dalam pembentukan maupun pengembangannya.

Dalam franchise, franchisee harus membayar sejumlah uang kepada franchisor sebagai biaya pengembangan sistem dan pelatihan. Franchisee juga harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh franchisor, seperti standar kualitas produk atau layanan yang harus diterapkan.

Saat ini Anda dapat dengan mudah menemukan franchise-franchise dengan harga sekitar 20-70 juta saja. Ini biasanya ditemukan dalam bisnis UMKM di bidang kuliner. Harga ini tentunya relatif lebih rendah dibandingkan franchise dengan brand besar, yang harganya bisa mencapai ratusan juta.

Jadi keuntungan dalam membeli franchise UMKM adalah dengan modal yang tidak jauh berbeda, Anda tidak perlu memulai semuanya dari nol, karena sudah ada sistem yang terbentuk dan Anda hanya perlu mengikutinya.

Namun dalam kasus franchise UMKM, kadang Anda masih perlu memperkuat branding di lokasi baru tempat cabang franchise didirikan. Ini tentunya dapat dimitigasi melalui strategi promosi dan pemasaran yang efektif dan efisien.

Ciri-ciri franchise bodong

Hati-hati! Tidak semua franchise adalah legitimate atau sah, bahkan franchise yang harganya tinggi sekali pun. Beberapa franchise disebut “franchise bodong” atau “franchise penipuan” karena tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh franchisor atau bahkan tidak memiliki hak atas produk atau layanan yang dijual.

Franchise bodong biasanya menawarkan keuntungan yang terlalu besar atau tidak realistis kepada franchisee, dan seringkali tidak memberikan bantuan teknis atau pelatihan yang dijanjikan. Seringnya franchise bodong akan menonjolkan popularitas melalui strategi viral media sosial, tapi tidak bisa membuktikan kualitas dari produk/jasanya.

Dengan memamerkan viralitas media sosial, mereka seolah-olah “membuktikan” bahwa bisnis tersebut layak untuk dibeli. Franchisee yang terjebak dalam franchise bodong biasanya mengalami kerugian finansial yang signifikan dan merasa tertipu oleh franchisor.

Untuk menghindari terjebak dalam franchise bodong, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh calon franchisee, seperti:

  1. Memastikan bahwa franchisor telah terdaftar secara legal dan memiliki lisensi yang sah.
  2. Membaca dan memahami dengan seksama dokumen franchise sebelum membuat keputusan.
  3. Meminta referensi dari franchisee lain yang telah bekerjasama dengan franchisor tersebut.
  4. Mencari informasi tentang reputasi dan track record franchisor melalui sumber yang terpercaya.
  5. Apabila memungkinkan, mintalah bantuan dari ahli hukum atau profesional lainnya untuk membantu mengevaluasi dokumen franchise dan memahami risiko yang terkait dengan franchise bodong.
  6. Menghindari mengambil keputusan secara terburu-buru dan meminta waktu untuk mempertimbangkan semua informasi yang tersedia sebelum memutuskan untuk bergabung dalam sebuah franchise.
  7. Jangan tergiur dengan janji keuntungan yang terlalu besar atau tidak realistis.
  8. Selalu waspada terhadap tawaran franchise yang tidak memenuhi syarat yang diharapkan, seperti tidak memberikan pelatihan yang memadai atau tidak memiliki lisensi yang sah.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, calon franchisee dapat meminimalisir risiko terjebak dalam franchise bodong dan memastikan bahwa mereka memilih franchise yang sah dan terpercaya untuk memulai sebuah bisnis UMKM.

Share your love